-
Berpusat
pada Jasmani saja, bukan pada Jasmani dan Rohani (Holistic) kurangnya
pemahaman mengenai aspek rohani yang meliputi fungsi-fungsi kerja otak
dan psikologi perkembangan anak dll.
-
Berpusat
pada kepentingan guru bukan murid (yang penting sdh ngajar tak perduli
murid mengerti atau tidak) Pertanyaan yang lazim diantara para guru dan
kepala sekolah....eh sudah sampai dimana ngajarnya....? wah aku mesti
ngebut nich waktunya sudah hampir habis.
-
Berpusat
pada target materi/kurikulum bukan dinamika kelas (yang penting target
selesai, tak perduli kelas pasif, ribut atau murid bolos sekalipun)
-
Berpusat
pada pemahaman fungsi otak yang terbatas (IQ) bukan pada Multiple
Intelligence (Kecerdasan Unik tanpa batas) Pengakuan anak pandai yang
sangat terbatas pada kemampuan Eksakta & Verbal. “Jadi wajar bila
dalam tiap kelas paling-paling Cuma ada 5 orang saja yang pandai dan
bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
-
Berpusat
pada kemampuan Naluri Mengajar bukan pada keahlian profesional mengajar
berdasarkan pelatihan. (Sebagian besar guru mengajar berdasarkan naluri
dan sedikit pengalaman bagaimana mereka dulu di ajar)
-
Berpusat pada LOWER ORDER THINKING bukan Highly Order Thinking. (Menghapal soal yang Jawaban sudah ada/dimiliki gurunya)
-
Berpusat
pada 1 Model TES (Verbal Test Model/Schoolastic Aptitude Test) bukan
berdasarkan tes beragam yang disesuaikan dengan jenis bidang dan mata
ajar dan keunggulan spesifik anak.
-
Berpusat pada hasil akhir (hanya sebagai uji ingatan bukan pada proses perbaikan yang diamati dan dicatat dari waktu kewaktu)
-
Berpusat
pada proses Imaginatif bukan realitas (anak kita tidak pernah mengerti
manfaat ilmu yang diajarkan bagi realitas hidup mereka kelak)
-
Guru
sebagai sumber kebenaran (sindrom Teko Cangkir bukan korek api dan kayu
bakar) bahwa guru hanya sebagai menuang air bukan pembangkin minat
belajar anak.
-
Berpusat pada ruang
dan tempat yang terbatas. (Bayangkan anda duduk disatu ruangan selama
berjam-jam, apa lagi kursinya keras) nah itulah yang dialami
murid-murid di sekolah kita, duduk dibangku yang keras selama
berjam-jam.
-
Miskinnya pemberian
dukungan belajar/Motivasi dari para guru (guru lebih suka memuji yang
sukses dari pada membangkitkan yang gagal serta memuji usaha
kebangkitannya, terlepas dari kegagalan demi kegagalan (Sindrom Belajar
Sepeda) Dalam belajar sepeda kita bisa baru bisa naik sepeda setelah
beberapa kali mengalami kegagalan. Tidak pernah ada anak yang langsung
bisa naik sepeda tanpa pernah jatuh.
-
Guru
sebagai penguji bukan sebagai pembimbing, Guru merasa tidak bertanggung
jawab terhadap kegagalan para siswanya dalam ujian yang dibuatnya
sendiri. Salah satu sistem pendidikan di perguruan tinggi di AS.
menempatkan doses sebagai pendamping, sedangkan yang menentukan
kelulusan adalah pihak luar sekolah yang juga merupakan user dari si
siswa. Kegagalan siswa dalam ujian sekaligus menunjukkan kegagalan
dosen dalam mengajar.
-
Berpusat
pada Tradisi bukan Kreatifitas (HOT SPOT – Hot Spot adalah kurikulum
dinamis dan pembahasan masalah yang tidak didasarkan pada buku wajib,
malainkan dibahas dan dikembangkan dari kasus-kasus yang sedang terjadi
disekitar kehidupan anak-anak), Sementara Tradisi Kurikulum adalah
statis, selalu sama yang diajarkan dan sering kali tidak relevan dengan
perubahan zaman yang dialami siswanya sekarang, sehingga pendidikan
dari waktu-kewaktu tidak mengalami kemajuan. Ingat waktu kita masih
kecil bagaimana kita diajari menggambar..... apa yang yang kita
gambar.....? Pemandangan dengan dua buah gunung, jalan ditengahnya,
pohon dipinggir jalan.....? nah itulah salah satu contoh metode
“Tradisi” dalam mengajar.
-
Sekolah
Lebih tepat disebut sebagai Lembaga Pengajaran bukan Lembaga
Pendidikan, (Mengajar adalah membuat tidak tahu menjadi tahu, tidak
bisa menjadi bisa sedangkan Mendidik adalah membuat anak tidak mau
menjadi mau.) Sasaran mengajar adalah Ilmu sedangkan sasaran mendidik
adalah moral dan karakter. Oleh karena wajar jika banyak anak didik
disekolah yang justru memiliki karakter sama seperti orang yang tidak
terdidik.
Selain
memperhatikan unsur-unsur tersebut di atas, ada beberapa poin yang
dapat membantu orang tua dalam memilih sekolah yang benar-benar
berkualitas bagi masa depan anaknya.
-
Memiliki Konsep Sekolah yang jelas dan tepat.
Konsep
sekolah sangat penting, karena konsep ibarat sebuah “resep” dalam
pembuatan kue, Hanya konsep yang tepat sajalah yang akan menghasilkan
kue-kue yang berkualitas. Oleh karena itu jenis kue yang sama sering
kali memiliki rasa yang berbeda-beda. Hanya kue dengan resep yang
tepatlah yang dapat menghasilkan rasa yang lezat dan disukai.
-
Pemahaman yang mendalam akan konsep sekolah
Seluruh
Jajaran mulai dari pimpinan, guru, administrasi secara keseluruhan
mengetahui dan memahami Konsep Dasarnya yang dimiliki oleh sekolahnya,
dan menerapkan konsep tersebut kepada siswa dalam proses belajar dan
mengajar.
-
Program Pengembangan SDM yang kontinu
Guru-guru
yang secara terus-menerus mendapat pelatihan dan program pengembangan
yang berhubungan dengan pengetahuan dan kemampuan keahliannya.
-
Melibatkan Orang tua dan anak secara aktif.
Proses
ini akan sangat membantu kedua belah pihak untuk dapat menjamin
tersolusikannya setiap permasalahan anak. Karena anak pada dasarnya
merupakan produk orang tua dan sekolahnya. Hal ini dapat dilakukan
misalnya dengan mengadakan pelatihan pendidikan bagi orang tua,
Voluntary Parent, Pemecahan Problem Prilaku Bersama, Kunjungan ke Objek
Pembelajaran Luar Sekolah.
-
Dasar Rekrutmen Guru-guru yang tepat.
Pemilihan
guru dan para pendidik harus lebih mengutamakan pada Kecintaan kepada
anak serta bidang pendidikan bukan pada Gelar-gelar akademik semata,
karena banyak sekali guru yang bergelar tinggi tapi justru tidak
mencintai bidangnya.
-
Guru yang memahami psikologi perkembangan anak
Para
gurunya memiliki pemahaman yang mendalam mengenai psikologi anak dan
pendidikan. (Psikologi Perkembangan, Gaya Belajar, Komunikasi). Dia
bisa menjelasakan tidak hanya apa yang diberikan dalam proses
pembelajaran akan tetapi juga mengapa dan untuk apa hal itu diberikan
pada anak.
-
Para guru yang menguasai teknik-teknik pengajaran dan pendidikan.
Guru
harus menempatkan posisinya sebagai sahabat bagi siswa bukan sebagai
instruktur; sehingga siswa merasa belajar dengan sahabatnya bukan
dengan instrukturnya.
-
Sistem dan Pola Pembelajaran yang mengacu pada proses perkembangan kemampuan secara berkala, bukan pada ujian akhir.
Penilaian
hasil sebuah pembelajaran adalah proses peningkatan dari waktu-kewaktu
kemampuan siswa, mulai dari tidak bisa menjadi bisa dan mahir bukan
hanya berbasiskan tes/ujian di akhir masa pembelajaran saja. Sistem ini
disebut sebagai “Portfolio Management”
-
Sistem
Pendidikan dan Pengajaran yang memberdayakan kemampuan uggul “unik”
setiap anak. Tidak memberlakukan sistem ranking dan rata-rata kelas,
akan melainkan menggunakan sistem yang mengidentifikasi keunggulan dan
kelemahan masing-masing individu dengan berfokus pada keunggulannya.
Sehingga anak paham akan potensi keunggulan dirinya masing-masing.
-
Tidak menggunakan kelas sebagai satu-satunya tempat belajar.
Setiap tempat adalah tempat belajar yang baik dan sempurna bagi siswa, sementara kelas adalah hanya salah satunya.
-
Tidak menggunakan papan tulis dan buku sebagai satu-satunya media belajar.
Media
belajar yang baik adalah dengan membuat alat pembelajaran sendiri dari
lingkungannya dengan mengandalkan ide-ide kreatif dari guru dan siswa.
Buku dan papan tulis hanyalah alat bantu untuk memvisualisasikan apa
yang diinginkan oleh guru pada siswanya.
-
Materi yang seimbang antara akademik dan life skill.
Diluar
sekolah anak akan menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan nyata
bagi dirinya saat ini dan kelak setelah dewasa. Oleh karena itu
pembelajaran kehidupan dan bagaimana untuk dapat hidup dimasyarakat
jauh lebih utama untuk dikuasai oleh para siswa. Bukan hanya
mengagung-agungkan nilai EBTA, Sumatif Tes atau IPK, yang nyata-nyata
kontribusinya tidak besar bagi sukses kehidupan anak kelak.
-
Mau menerima masukkan dari luar untuk proses pengembangan sistem pembelajaran.
Jelas
bahwa sekolah bukanlah institusi yang paling sempurna dalam mendidik
dan mengembangkan kemampuan siswa, oleh karenanya sekolah sangat
memerlukan berbagai masukan yang tepat dari berbagai pihak untuk dapat
mendidik lebih baik.
-
Anak
antusias, kreatif, kritis dan senang sekali bersekolah dan diajak
bicara tentang sekolahnya. Ini merupakah alat ukur yang paling mudah
bagi orang tua yang ingin mengetahui apakah sekolah yang dipilihnya
cocok untuk anaknya.
-
Anak kita akan menjadi lebih baik dalam waktu 3 s/d 6 bulan.
Sistem
pendidikan yang baik tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk
mengembangkan anak didiknya, baik yang berhubungan dengan kemampuan
krititis ataupun prilaku terpuji dari anak kita. Perubahan itu
seharusnya akan mulai terlihat dan dirasakan oleh orang tua pada
semester-semester awal dan terus berlangsung sepanjang periode
pembelajaran.
Oops!
Oops, you forgot something.